Paparan & Kajian

Yakin Usaha Sampai

Teologi Pembebasan Menjawab Kegalauan HMI

HmI

HmI

Sekarang, semua masalah kita berasal dari Amerika,

Semua masalah kaum Muslim berasak dari Amerika

Adalah Amerika yang memperkuat zionisme dan terus melakukan itu,

dan yang membunuh saudara-saudara kita,kelompok demi kelompok

(Imam Khomeini)

Kami sama sekali tidak menginginkan ketegangan hubungan di dunia, bahkan kami mendamaikan perdamaian dan ketentraman dunia. Akan tetapi kami tidak menerima pemaksaan.

(Kata penutup surat Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad kepada Presiden George Bush)

 

Iran, Si Anak Bandel  

Kutipan kata penutup dalam surat Mahmoud Ahmadinejad kepada George Bush diatas menyiratkan kualitas istimewa yang dimiliki seorang presiden. Seorang presiden harus mampu melaksanakan hubungan luar negeri yang berlandaskan pada martabat, kedaulatan, dan prinsip kejujuran. Ahmadinejad memahami bahwa kekuasaan pongah Amerika akan merugikan masa depan semua bangsa.

Apalagi dalam sejarah politiknya pemerintah Amerika sangat sering mengintervensi urusan dalam negeri Iran. Hal itu mendasari Ahmadinejad mengalokasikan dana untuk menetralisir pengaruh konspirasi AS. Kebijakan ini unik untuk ukuran sebuah negara, tapi sangat logis ketika melihat jejak pengaruh kuasa Amerika atas Iran.

Dengan kemajuan teknologi militernya, Iran menjadi negara yang patut diperhitungkan. Sikap politiknya yang tegas dan sangat berani terhadap dominasi kekuasaan AS menjadikannya disebut sebagai “Poros Setan” oleh gedung putih. Wajah Iran pun kian hari tambah mengejutkan. Iran menjadi negara yang pertumbuhan ekonominya terbaik di Timur Tengah.

Blokade Amerika tidak membuatnya jatuh kedalam jurang kemiskinan dan kelaparan. Iran adalah saksi hidup bagaimana embargo tidak akan menjadikannya lemah. Iran telah menjadi eksportir jasa teknik di segala bidang. Pertumbuhan ekspor non minyak Iran kini telah mencapai 11 Milyar dolar per tahun. Berdasarkan laporan Bank Dunia pada tahun 2005 Iran merupakan negara ke empat di Timur Tengah yang pendapatannya tidak hanya bergantung pada minyak[i].

Penolakan terhadap monopoli Amerika tidak hanya dilakukan oleh Ahmadinejad saja, tetapi juga oleh sahabat-sahabatnya sesama Presiden di Amerika Latin. Fidel Castro (Presiden Kuba), Hugo Chaves (Presiden Venezuela), dan Evo Moralez (Presiden Bolivia) membangun sebuah pakta ekonomi Amerika Latin yang prinsipnya bertolak belakang belakang dengan pasar bebas.

Pakta ini bernama ALBA (Alernative Bolivarian for Latin Amerika/Alianza Bolivariana para los Pueblos de Nuestra América) dan hadir sebagai alternatif dari FTAA (Free Trade Area of America). Pemimpin lain yang ikut tergabung dalam ALBA antara lain Lula (Presiden Brazil), Kirschner (Presiden Argentina), dan Guiterrez (Presiden Ekuador). ALBA merupakan resep mutakhir untuk melawan sistem pasar bebas yang dipaksakan oleh negara tiran Amerika Serikat.

Prinsip ALBA ini telah banyak menginspirasi banyak Presiden Amerika Latin karena menggunakan prinsip yang bertolak belakang dengan pasar bebas. Prinsip saling melengkapi (daripada berkompetisi), solidaritas (daripada dominasi), kerja bersama (daripada bereksploitasi), dan penghormatan terhadap hak rakyat (menggantikan kekuasaan korporasi) merupakan intisari nilai-nilai sosialis yang ingin digunakan untuk melawan arogansi pasar bebas.

Contoh praktek di lapangan yaitu antara Kuba dan Venezuela melakukan pertukaran dokter dengan minyak, operasi mata gratis bagi penduduk miskin Venezuela ke Kuba setiap minggu, pertukaran minyak dengan bahan makanan dan pertanian, dokter dengan mesin industri, serta bantuan modal untuk pengembangan industri minyak dan penjualan minyak murah.

Di luar hal tersebut, menurut saya ada kebijakan lain yang menarik untuk diamati:

KEBIJAKAN AHMADINEJAD HUGO CHAVEZ FIDEL CASTRO MORALEZ
Pendidikan Pendidikan gratis di semua jenjang untuk semua sekolah pemerintah bahkan ada pemberian makanan gratis pada jenjang pendidikan tertentu Memberikan pendidikan gratis untuk kelompok miskin dan keterampilan khusus (komputer) pada kalangan miskin Pendidikan gratis untuk semua jenjang pendidikan dengan pemberian dasar-dasar keyakinan sosialisme di tingkat dasar Pendidikan gratis untuk masyarakat miskin dengan pemahaman akan situasi sosial dan keadaan konkrit ekonomi yang penuh ketimpangan
Kesehatan Pelayanan kesehatan gratis bagi rumah sakit pemerintah dan jaminan kesehatan untuk mereka yang miskin Pelayanan kesehatan gratis dengan penempatan dokter pada tempat tinggal kaum miskin Pelayanan kesehatan gratis dan terjamin. Ada dokter yang diberi tanggung jawab pada beberapa keluarga. Imunisasi diberikan hingga tingkat SLTP Layanan kesehatan gratis dan kewajiban dokter untuk komunitas dan kampung orang-orang miskin.
Perumahan Penyediaan rumah cepat pada saat gempa dan itu dilakukan tanpa bantuan asing. Dalam jangka 7 bulan pasca gempa, pemerintahan Iran sanggup membangun 7.400 perumahan Perumahan khusus untuk mereka yang miskin dengan prioritas fasilitas kesehatan yang terjamin. Pembatasan hak milik tanah bahkan penyitaan pada perusahaan real estate yang membuat lahan tidak produktif dan jadi objek spekulasi. Perumahan untuk warga miskin dan jumlah rumah harus lebih besar ketimbang jumlah penduduk sehingga tidak ada penduduk yang harus tinggal di jalanan. Pembatasan kepemilikan tanah sehingga tidak ada para baron (penguasa tanah) Perumahan khusus untuk kaum miskin dari dana nasionalisasi perusahaan dimanfaatkan untuk membangun perumahan untuk pemukiman orang miskin

Sumber: (Prasetyo, 2006: 145)

 

Iran: Islam & Revolusi

Kenapa Ahmadinejad dan Iran bisa tampil sedemikian garang dalam era sekarang ini? salah satunya adalah karena nilai-nilai revolusioner dalam teologi Islam ditafsirkan dalam kehidupan politik maupun sosial. Hal ini menjadi penting mengingat: Pertama, teologi Islam yang sekarang ini berkembang di masyarakat telah kehilangan relevansinya dengan konteks sosial yang ada, padahal teologi Islam itu seharusnya bersifat kontekstual dan transedental. Kedua, teologi itu pasti telah mengalami demisfied dari apa yang dimaksudkan sebenarnya dari Islam. Ketiga, mengembalikan seperti semula komitmen Islam terhadap terciptanya keadilan sosio-ekonomi dan terhadap golongan masyarakat lemah.

Semasa Nabi Muhammad masih hidup dan beberapa dekade sesudahnya, Islam tampil dengan wajah revolusioner. Sejarah menuliskan bahwa Nabi secara signifikan membawa angin perubahan yang radikal di jazirah Arab. Nabi secara konsisten menyerukan perubahan dalam tatanan masyarakat termasuk kepada suku dominan pada saat itu, yaitu suku Quraisy. Suku Quraisy menyombongkan diri dan mabuk dengan kekuasaan. Mereka melanggar norma-norma kesukuan dan menistakan fakir miskin. Orang-orang miskin dan tertindas (termasuk para budak) di Mekah ini pada akhirnya menjadi pengikut awal Nabi saat menyebarluaskan risalah Islam. Nabi sendiri adalah seorang yatim piatu dan berasal dari keluarga miskin namun terhormat dari suku Quraisy.

Pada masa itu, ajaran Islam sebagaimana yang terkandung dalam Al-Quran sanggup membangkitkan emandipasi para budak sekaligus menghargai mereka dalam masalah agama dengan menempatkan mereka sederajat di sisi pemeluk Islam lainnya. Bahkan Islam menganjurkan pernikahan antara gadis-gadis yang menjadi budak dengan laki-laki biasa, dan sebaliknya.

Sayangnya, sifat Islam yang revolusioner ini secara perlahan sirna seiring kepergian Nabi Muhammad SAW. Selama abad pertengahan, Islam sarat dengan praktik feodalistik dan para ulama justru ikut menyokong kemapanan yang menghegemoni tersebut. Buku-buku yang muncul lebih banyak berkisar ibadah-ibadah ritual. Energi umat dihabiskan untuk mengupas masalah-masalah furu’iyah dalam syari’at, dan meminggirkan elan vital Islam dalam menciptakan keadilan sosial dan kepedulian Islam yang aktif terhadap kelompok yang lemah dan tertindas (mustad’afin). Kemunduran Islam tersebut berlangsung terus menerus dan semakin jelas terlihat saat ini.

 

Teologi pembebasan (theology of liberation)

Dengan melihat kondisi diatas, maka sangat menarik apabila kita membaca teologi pembebasan yang coba ditawarkan Asghar Ali Engineer, seorang tokoh intelektual yang berasal dari Iran. Teologi pembebasan lebih menekankan pada praksis daripada teoritisasi metafisis yang mencakup hal-hal yang abstrak dan konsep-konsep yang ambigu. Praksis yang dimaksud adalah sifat liberatif dan menyangkut interaksi dialektis antara “apa yang ada” (is) dan “apa yang seharusnya” (ought). Engineer menyatakan bahwa Islam yang sekarang ini diwarnai dengan ketidakjelasan metafisiko-teologis (metaphysico-theological obfuscations), sementara karakter ideologis Islam adalah semangat anti status quo. Jjihad pada hakikatnya bukan untuk mengedepankan kepentingan pribadi atau mempertahankan status quo, namun demi kepentingan orang yang tertindas atau lemah.

Teologi pembebasan (theology of liberation) menurut Engineer[ii] menitik beratkan pada empat hal. Pertama, teologi pembebasan dimulai dengan melihat kehidupan manusia di dunia dan akhirat. Kedua, teologi ini tidak menginginkan status quo yang melindungi golongan kaya dan meminggirkan golongan miskin. Dengan kata lain teologi pembebasan ini anti kemapanan (establishment), baik itu kemapanan relijius maupun politik.

Ketiga, teologi pembebasan memainkan peranan dalam membela kelompok yang tertindas dan tercabut hak miliknya, serta memperjuangkan perjuangan kelompok ini dan membekalinya dengan senjata ideologis yang kuat untuk melawan golongan yang menindasnya. Keempat, teologi pembebasan tidak hanya mengakui satu konsep metafisika tentang takdir dalam rentang sejarah umat Islam, namun juga mengakui konsep bahwa manusia itu bebas menentukan nasibnya sendiri. Teologi pembebasan mendorong pengembangan praksis Islam sebagai hasil tawar menawar antara kebebasan manusia dan takdir, teologi pembebasan lebih menganggap keduanya sebagai pelengkap, daripada sebagai konsep yang berlawanan.

Wujud teologi pada masa kini umumnya dikuasai oleh orang-orang yang sangat mendukung status quo. Teologi cenderung tampak sangat ritualis, dogmatis, dan bersifat metafisis yang membingungkan. Dengan wajah seperti itu, agama sama dengan mistik dan menghipnotis umat. Disinilah fungsi teologi pembebasan untuk memberikan kemerdekaan atas praktik keagamaan seperti diatas.

Agama tidak boleh berhenti pada urusan akhirat semata, tetapi juga tidak boleh semata-mata berurusan dengan masalah duniawi. Agama dituntut untuk dapat menjaga relevansi dua hal tersebut. Historisitas dan kontemporerisitas agama di satu sisi, dan urusan duniawi serta akhirat di sisi lain, harus disatukan sehingga menjadi sebuah agama yang hidup dan dinamis.

Islam Libertarian dan HMI

Islam adalah agama dalam pengertian teknis dan sosial-revolutif yang menjadi tantangan yang menganccam struktur yang menindas pada saat ini di dalam maupun di luar Arab. Tujuannya dasarnya yaitu persaudaraan yang universal (universal brotherhood), kesetaraan (equality), dan keadilan sosial (social justice)[iii]. Islam sebagai agama adalah sebuah risalah profetik yang tunggal. Kondisi hidup dari setiap kelompok dan kekuatan sosial ketika memaknai situasi yang ia hadapi, selalu mempengaruhi bagaimana ia membangun pandangan hidup, sistem nilai, dan basis legitimasi yang ia yakini. Ali Shariati (1985) dalam And Once Again Abu Dzar mengatakan:

Tidaklah cukup menyatakan kembali ke Islam. Kita harus uraikan secara spesifik. Islamnya Abu Dzar sebagai rakyat ataukah Marwan sang penguasa…Yang satu adalah Islam khalifah, istana, penguasa, sementara yang lain adalah Islamnya rakyat, yang tertindas dan miskin”.

Pemikiran Shariati ini menunjukkan ketika seseorang datang dan memeluk teks suci ia tidaklah bebas nilai. Ia datang dengan segenap harapan dan problematikanya masing-masing. Demikian halnya ketika setiap muslim memaknai agamanya Islam, maka ia akan mendatanginya dengan sebuah komitmen awal yang mereka pilih secara sadar, sebuah titik awal yang nantinya akan membentuk pilihan ideologis, sistem nilai, dan perangkat keyakinan, yang secara metodologis membentuk pemahaman tentang agama yang mereka peluk [iv].

Hal inilah yang diperlukan HMI dalam menentukan posisinya dalam konstelasi umat Islam di Indonesia. Islam seperti apakah yang ingin di bentuk oleh HMI, hanya kader maupun anggotanyalah yang mampu menjawab. Apakah HMI akan memilih Islam yang merepresentasikan dirinya sebagai khalifah, penguasa, birokrat atau memilih Islam kerakyatan yang berbasis kader & anggota secara umum, biarlah sang waktu yang akan menjawabnya. Karena mau diakui maupun tidak, di HMI tumbuh dualisme pemaknaan Islam yaitu Islam sebagai penguasa/birokrat organisasi yang seolah-olah menjadi penentu legitimasi di HMI dan Islam versi rakyat/kader dan anggota yang diposisikan sebagai rakyat yang harus tunduk dan taat kepada penguasa. Padahal tidak semua kader dan anggota mempunyai sikap dan mental yang sama terhadap pengurus. Setelah HMI menentukan pilihan sikapnya, semoga konflik dan kepentingan yang senantiasa mencengkeram organisasi ini berkurang dan dapat secara kolektif membangun umat di Indonesia ke depan.

sumber

Filed under: Berita HMI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pandjinews
Desember 2011
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
%d blogger menyukai ini: