Paparan & Kajian

Yakin Usaha Sampai

Carok: Identifikasi Lelaki Sejati Ala Madura

Celurit, senjata khas suku Madura untuk carok

Celurit, senjata khas suku Madura sekaligus senjata untuk carok

Selain karapan sapi, Madura memang dikenal memiliki tradisi carok. Carok adalah senjata yang berbentuk mirip bulan sabit. Dalam tradisi masyarakat Madura, carok bukan sekedar senjata, tetapi system of beliefyang menjadi simbol keberanian lelaki Madura. Artinya, bagi masyarakat Madura carok memiliki makna tersendiri yang sangat reflektif dan simbolik.

Dalam perspektif sosiologi Parsonian (1951:349), system of belief adalah seperangkat nilai-nilai normatif yang berlaku dan dijunjung tinggi secara turun temurun oleh sekelompok masyarakat tertentu, yang berfungsi sebagai faktor integratif bagi kolektivitas para anggotanya. Dalam konteks ini, carok adalah nilai-nilai normatif tentang keberanian yang dianut oleh masyarakat Madura. Budaya carok melambangkan keberanian lelaki Madura dalam menghadapi musuh pribadi atau kelompoknya.

Penelitian yang dilakukan Masdar Hilmi (2004) menyebutkan beberapa model musuh (moso) yang dikenal masyarakat Madura: a. Moso ate, yaitu musuh yang tidak secara terang-terangan melakukan aksi konfrontatif terhadap seorang atau sekelompok orang Madura. Permusuhan hanya tersimpan dalam hati. b. Moso dhelem (musuh dalam keluarga), yaitu permusuhan yang terjadi antara anggota keluarga karena berbagai sebab, seperti rebutan waris. c. Moso luwar (musuh yang tidak memiliki hubungan keluarga), d. Moso mata, yaitu musuh yang secara terang-terangan berposisi sebagai musuh.

Bila permusuhan model pertama hanya terpendam di hati sehingga jarang melahirkan peristiwa acarok (perang carok), tidak demikian dengan musuh model kedua, ketiga dan keempat.

Sebagai simbol keberanian, nilai-nilai carok diinternalisasikan dalam jiwa lelaki Madura semenjak remaja. Lelaki Madura diajarkan untuk menjadi bengal ben angko (berani) dan tidak menjadi pengecut. Hal ini terungkap dalam ungkapan bengal ka tompol, tako’ ka tajem (berani pada senjata yang tumpul, dan takut pada senjata yang tajam); yang berarti setiap lelaki Madura tidak boleh menjadi lelaki pengecut. Kalau dia mengaku orang Madura, maka ia harus berani berhadapan untuk bertarung (acarok) (mon lo’ bengal acarok ja’ ngakoh oreng Madureh).

Konstruksi budaya bengal ben angko (berani) tersebut terus dibawa oleh lelaki Madura hingga dewasa. Dan sikap tersebut kemudian menjadi ukuran nilai kehormatan lelaki Madura. Hal itu termaktub dalam ungkapan oreng lake’ mateh acarok, oreng bini’ mate arembi (seorang lelaki matinya karena carok, dan seorang perempuan mati karena melahirkan) dan ang’an poteya tolang atembeng poteya mata (lebih baik putih tulang dari pada putih mata).

Ungkapan-ungkapan tersebut mengisyaratkan bahwa bagi lelaki Madura yang bangga dengan dirinya sebagai orang Madura, maka dia harus berani mempertahankan kehormatan dan martabat diri dan kelompoknya meski harus dengan mempertaruhkan nyawa sebab jalan kematian akan lebih terhormat dibandingkan hidup dengan menanggung malu.

Karenanya lelaki Madura yang tidak berani ber-acarok dianggap sebagai pengecut dan telah membuat malu keluarga, kelompok dan anak cucunya (je’ matodusen nak potoh: jangan membuat malu anak keturunan). Ungkapan ini menuntut setiap warga Madura tetap menjaga gengsi demi mempertahankan kehormatan keluarga, sehingga keluarga dan anak keturunannya di kemudian hari tidak membawa beban rasa malu karena memiliki leluhur yang pengecut.

Tuntutan ini menjadikan setiap lelaki Madura mesti memiliki kemampuan olah beladiri (pencak silat – apenca’) dan berbagai ritual agar sakti mandraguna. Selain itu dia juga mesti memiliki dana yang cukup mengingat aksi acarok seringkali berlarut-larut hingga waktu yang tidak terbatas.

Kolektivitas

Terjadinya perang Carok antara kelompok tidak lepas dari kuatnya tradisi kolektivitas masyarakat Madura. Salah satu penyebab kuatnya semangat kolektivitas adalah sistem sosial tanean lanjang. Sistem sosial ini kebanyakan terdapat dalam masyarakat Madura yang hidup di wilayah Sumenep dan sekitarnya. Dalam sistem ini setiap anak perempuan yang telah menikah tetap tinggal di lingkungan pekarangan orang tuanya, sementara anak lelaki yang telah menikah mesti pindah tinggal di keluarga istrinya.

Dengan sistem tanean lanjeng ini satu keluarga akan lebih terjaga komunalitasnya dan proteksi dari pihak tertua kepada yang muda akan tetap terjaga. Implikasinya, akan tercipta lingkungan keluarga yang eksklusif. Eksklusivitas ini semakin diperkuat oleh kecenderungan orang tua untuk menikahkan anaknya dengan orang yang masih memiliki ikatan darah. Kecenderungan tersebut terungkap dalam istilah mapolong tolang (mengumpulkan tulang) sebagai tanda menyatukan persaudaraan dengan perkawinan.

Ikatan persaudaraan menuntut setiap anggotanya untuk membela anggota kelompoknya yang terlibat masalah dengan kelompok lain. Namun sayangnya, seringkali pembelaan itu tanpa memperhatikan salah benarnya tindakan saudaranya tersebut.

Ini bukan berarti setiap keluarga pasti solid tanpa persoalan. Seperti penjelasan sebelumnya, masyarakat Madura mengenal adanya musuh dalam keluarga (moso dhelem). Artinya, meski setiap anggota keluarga meski memiliki kewajiban membela saudaranya, namun sangat dimungkinkan terjadinya konflik antara anggota keluarga hingga terjadi peristiwa acarok. Ada berbagai sebab terciptanya moso dhelem, kabanyakan karena perebutam harta warisan.

Tradisi carok memang menyeramkan bagi orang-orang non-Madura, namun bagi masyarakatnya, carok memiliki makna yang dalam, reflektif dan simbolik. Ia adalah nilai dan identitas warga Madura. Tradisi carok tidak terjadi tanpa sebab yang tidak jelas. Kehormatan, harga diri dan marwah keluarga menjadi nilai tertinggi yang melandasi bangunan tradisi carok Madura.

sumber

Filed under: Buletin Pandji, Nasional

4 Responses

  1. caroka mengatakan:

    sebaiknya budaya carok di lestarikan di sampit jangan cuma di surabaya… kalo berani…

  2. mostwanted mengatakan:

    Carok budaya kaum bodoh dan pengecut.

  3. ical mengatakan:

    Keterangan di gambar sdh betul, tp di artikelx malah banyak yg sangsi, salah total dalam mendefinisikan kata CAROK, sbg tema dasar dr penulisan artikel ini shg penjabarannya banyak yg kurang tepat. Carok itu bukan nama senjata. Carok adalah PERKELAHIAN dgn menggunakan celurit. acarok berarti BERkelahi dgn menggunakn celurit.

  4. Ja ngakoh mengatakan:

    wah, tradisi carok itu biadab.harus di hilangkan.jika tidak mau menjadi bumerang,musnahkan kekejian suku madura yg suka membunuh.kami warga betawi akan membantai.ingat itu.seperti suku2 lain nya sudah muak dengan YAHUDI MADURA KEPARAT.berhati hatilah kau madura

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pandjinews
Januari 2012
S S R K J S M
« Des   Feb »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  
%d blogger menyukai ini: