Paparan & Kajian

Yakin Usaha Sampai

Rohingya, Duka Penggiat Demokrasi dan HAM?

Muslim Rohingya yang berhasil mengarungi samudera dan selamat dari konflik.

Muslim Rohingya yang berhasil mengarungi samudera dan selamat dari konflik.

Beberapa waktu yang lalu demam Piala Eropa 2012 melanda di seantero jagad raya. Yang membuat umat manusia di muka bumi lupa akan segalanya, termasuk dengan segala permasalahan yang dialaminya. Laga tim-tim terbaik di Benua Biru, sedikit banyak menghibur warga dunia termasuk Spanyol yang memang ketika itu dan hingga kini tengah dilanda krisis ekonomi. Sampai pada akhirnya tim “Matador”lah yang ditasbihkan menjadi juaranya.

Lain di Eropa lain di Asia. Memang event sepak bola 4 tahunan itu, sedikit banyak menghipnotis masyarakat dunia akan persoalan-persoalan duniawi yang tengah mereka hadapi. Namun hal itu tidak berlaku di sebuah wilayah negara yang bernama Myanmar. Negara yang memang kerap kali menjadi sorotan oleh bangsa-bangsa garda terdepan pengusung demokrasi dan HAM, karena sikap rezimnya yang anti dan tidak peduli akan prinsipil kebebasan tersebut. Lalu kali ini apalagi yang diperbuat rezim Junta Militer kepada Aung San Suu Kyi, wanita pejuang pro-demokrasi dan HAM yang baru saja menjadi anggota parlemen itu? Ternyata bukan itu, karena kali ini yang menjadi pokok persoalan di negara yang dahulu bernamakan Burma tersebut adalah, kesengajaan serdadu-serdadu militer membiarkan perang sektarian antara suku Budha Rakhine dengan umat muslim Rohingya yang banyak memakan korban jiwa khususnya di pihak warga Rohingya. Bahkan aparat militer pemerintah cenderung membantu kelompok mayoritas, (suku Rakhine) seperti yang dituturkan salah seorang perempuan warga Rohingya Sayeda Begum, yang kemudian berhasil selamat dengan melarikan diri ke negara muslim tetangga, Bangladesh. Dirinya mengaku kehilangan suami yang juga ayah dari anaknya, yang dibunuh polisi dengan cara ditembak. “Polisi Burma hanya menembaki muslim, bukan warga pemeluk Buddha. Militer hanya menonton dari atap dan mereka tidak melakukan intervensi,” ucap Sayeda Begum. Jadi bayangkan ketika anda bersorak dan berteriak kegirangan karena tim kesayangan anda memenangi pertandingan dalam Euro 2012, dibelahan bumi lainnya di Myanmar, warga Rohingya berteriak ketakutan ketika ingin dihabisi nyawanya oleh kelompok dari agama yang mengajarkan welas asih tersebut.

Memang membaranya konflik antar umat tersebut bermula atas diperkosa dan tewasnya salah seorang perempuan suku Rakhine oleh warga Rohingya. Namun sesungguhnya, konflik antar kelompok mayoritas dan minoritas ini bukanlah hal baru. Karena pada dasarnya masyarakat muslim Rohingya adalah masyarakat yang memang dianggap pendatang atau imigran ilegal oleh pemerintah Myanmar. Maka dari itu tidak ada hak kewarganegaraan dan hak kepemilikan properti meski mereka sudah tinggal berpuluh tahun lamanya. Hal ini semakin memburuk ditambah lagi pernyataan dari Presiden Myanmar Thein Sein, yang mengatakan ingin mengirimkan warga Rohingya ke kamp-kamp UNHCR, badan pengungsi PBB. Jadi perlakuan-perlakuan diskriminatif terhadap warga Rohingya, memang sudah terjadi dan dirasakan sehari-hari, tahun demi tahun lamanya, sampai dengan hari ini.

Lalu dimana peran negara-negara yang mengaku memiliki demokrasi dan HAM paling legitimate di muka bumi seperti Amerika dkk? Kemudian pula, kemanakah suara lantang pejuang Demokrasi dan HAM Aung San Suu Kyi, dalam tragedy kemanusiaan tersebut. Kalau berkisah tentang rekam jejak Amerika, selalu saja dipenuhi langkah-langkah standar ganda dalam penegakan konsep kebebasan tersebut. Jadi, “lain lubuk lain airnya, lain ikannya, lain pula pancingnya.” Mungkin prinsip inilah yang mereka (Barat) gunakan. Terlebih berbicara tentang Aung San Suu Kyi. Wanita yang baru saja dibuatkan film perjuangan heroiknya oleh Hollywood itu, tak ubahnya boneka yang mampu bertutur kata karena adanya orang di baliknya. Dan dalam hal ini dengan tegas saya katakan, adalah Amerika yang mensupport secara penuh sepak terjang perempuan berusia 67 tahun itu. Jadi pada intinya tidak usah terlalu berharap kepada “majikan dan bonekanya” tersebut. Karena konsepsi kebebasan yang mereka tawar dan perjuangkan adalah sebatas yang menguntungkan mereka saja. Beginilah peranakan hasil perkawinan perjuangan sebuah ideology, dengan pragmatisme politik.

Akan tetapi yang paling menyedihkan dari hal ini adalah, dimanakah wujud dari negara-negara yang mengaku seumat dengan mereka yang teraniaya ini? Menjadi miris ketika beberapa waktu lalu pemerintahan negara muslim Bangladesh, mengumumkan akan bertekad menghentikan derasnya arus pengungsi warga Rohingya korban kekerasan dan diskriminasi, yang telah mencapai 400.000 orang. Karena keberadaan mereka dinilai “Dhaka,”membawa permasalahan sosial tersendiri di negara yang memang masih terbelit dengan permasalahan mendasar kemiskinan itu. Tidak bisa disalahkan memang, atas sikap yang diambil jika melihat perekonomian negara yang dirasa tak kunjung sejahtera itu. Dan secerca cahaya yang tidak kita nafikan, bahwa sudah ada beberapa negara muslim yang mengecam tindakan pembiaran oleh Barat, seperti yang dilakukan pemimpin spiritual Iran Ali Khamenei. Akan tetapi menjadi sangat disayangkan ketika belum ada tekanan-tekanan ke pihak pemerintah Myanmar dan Barat oleh negara-negara muslim yang memiliki bargaining position dengan negara barat seperti Arab Saudi dkk. Karena posisi negara seperti Arab Saudi dinilai cukup memiliki pengaruh dan posisi tawar politik yang tinggi dengan pihak barat, ketimbang negara Islam lainnya. Namun sekali lagi dengan nada pesimis, kita semua tahulah, track record negara Islam sekutu Amerika tersebut. Jadi, sujud syukur jika ada respon positif dari negara tempat kelahiran tokoh paling berpengaruh dalam sejarah manusia, Muhammad SAW (The 100, Michael H. Hart) itu.

Namun pada dasarnya, persoalan ini bukan lagi hanya persoalan pembelaan terhadap kelompok atas nama kesamaan agama. Tapi juga persoalan bagi seluruh umat manusia yang memang memperjuangkan hak-hak paling mendasar dari makhluk yang berakal ini yakni tentang, “hak untuk hidup.” Karena esensinya yang ingin dicapai warga Rohingya hanyalah, ingin hidup tentram, sejahtera tanpa dibeda-bedakan. Dan oleh sebab itu, kita yang mengaku masih memiliki rasa kemanusiaan ini, marilah bersama-sama, memerangi seluruh sikap-sikap diskriminatif yang melegitimasi pembantaian nyawa manusia atas nama kelompok mayoritas, baik yang ada di Myanmar dan juga sudut-sudut belahan bumi lainnya, demi terciptanya peradaban umat manusia yang damai dan bermuara pada kesejahteraan. (MochRiz)

Filed under: Berita HMI, Buletin Pandji, Internasional, KARYA HMI IISIP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pandjinews
Juli 2012
S S R K J S M
« Mei   Agu »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  
%d blogger menyukai ini: