Paparan & Kajian

Yakin Usaha Sampai

Bertuhan VS Tidak Bertuhan

Suatu ketika di bulan Ramadhan ini, saya menyaksikan sekelebat promo iklan dari sebuah acara talk show di MetroTV yang dipandu oleh Ary Ginanjar. Kejadian ini tak urung memecah pikiran saya untuk kembali mengingat memori beberapa bulan yang lalu, dimana saya berkumpul bersama kurang lebih 700 orang pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Senat seluruh Jakarta, untuk mengikuti training ESQ milik Ary Ginanjar tersebut. Pelatihan  yang berlangsung di daerah Jakarta Selatan tepatnya di Menara 165 itu, sedikit banyak membekas positif dalam bingkai memori yang terkoleksi. Terlebih ketika saya berangkat dalam perjalanan menuju acara yang diadakan Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) wilayah Jakarta itu. Saat saya berhenti sejenak di lampu merah Ragunan kearah Lebak Bulus, untuk kemudian kembali menarik gas sepeda motor saya menuju Cilandak, ada sebuah titik dimana jalanan sedikit menurun dan ketika saya berpandangan lurus kedepan, mata saya menjadi terbelalak ketika melihat salah satu gedung terbesar (Menara 165) di lingkungan itu, yang beratapakan kubah bertuliskan “Allah.” Layaknya dzikir bersama ustadz kampung, saya berulang kali mengucap kalimat kebesaran Tuhan. Hal ini benar saja membuat hari itu layaknya sebuah perjalanan spiritual dramatis yang bukan lagi “tanah” tujuannya, melainkan “Gedung Suci.”

Yang tak kalah penting dalam pengalaman pelatihan yang mecita-citakan kepemimpinan yang lebih baik untuk Indonesia itu adalah, tentang materinya. Menjadi menarik menurut saya, karena salah satu penanaman yang menjadi dasar dalam materinya adalah, tentang keyakinan kita akan keberadaan Tuhan. Dengan segala upaya melalui audio  dan visualisasi yang cukup mengganggu daun telinga, mereka (pemateri) mengindoktrinasi mahasiswa-mahasiswa yang 100 persen bertuhan di KTP nya masing-masing ini.

Akan tetapi pada dasarnya, saya kira materi ini sangat baik dan penting di tengah gencarnya kembali paham-paham yang berlandaskan Darwinisme khususnya dikalangan mahasiswa. Karena sejak runtuhnya rezim totaliter Soeharto dengan Orde barunya, bak jamur dimusim hujan, konsepsi yang berlandaskan asal muasal manusia itu tumbuh subur dilingkungan civitas akademika perguruan tinggi. Ini tidak terlepas dari konsekuensi kita dalam memilih demokrasi sebagai mekanisme dalam  bermasyarakat dan juga bernegara. Meskipun kelompok-kelompok yang melandaskan pada teori yang bermuara pada ateisme tersebut khususnya kelompok komunis, secara eksplisit belum ada yang berani menampilkan diri. Karena memang mereka masih terganjal oleh Ketetapan MPRS no 25/1966 tentang larangan PKI dan organisasi berbau sejenis lainnya. Meskipun, kekiniannya banyak yang menggugat relevansi dan keabsahan dari ketetapan tersebut. Alasannya selain karena rezim telah berganti, juga banyak terkuaknya cerita-cerita sejarah yang kontradiktif tentang sejarah yang melatarbelakangi ketetapan wakil rakyat sementara itu dibuat. Hal ini dirasa mustahil mengingat adanya kekuatan mayoritas di negara ini yang siap untuk tidak berkompromi dengan nama yang berkaitan dengan berbagai sejarah pemberontakan di negeri ini tersebut. Dan saya menjadi tidak tahu, ada atau tidak pihak ketiga yang berkepentingan untuk kemudian mendukung kelompok mayoritas ini, seperti yang terekam memori masa silam.

Sedikit Mengkaji Gagasan dalam Komunisme

 Sejak berakhirnya perang dingin, pihak barat dan komunis memang sudah tidak lagi secara eksplisit menunjukkan keunggulan dan kekuatan seperti ketika era tembok berlin belum runtuh itu. Namun diakui atau tidak, pihak barat masih tetap secara implisit “berperang” dengan negara berideologi hasil pemikiran Marx tersebut, selain terkonsentrasi pada mencounter Islam seperti yang dilakukan Amerika Serikat sejak tragedi 11 September. Memang tidak sevulgar ketika berakhirnya era perang dunia kedua. Terlebih negara-negara komunis yang ada sekarang seperti Rusia dan Cina, tidak “segarang” masa lampau. Namun tetap saja intrik, propaganda dan psywar secara halus, terus berlangsung di negara-negara yang dipersengketakan dua kelompok besar dunia itu, termasuk di Indonesia. Hal ini tercerminkan dari contoh kasus pencabutan embargo militer yang diberlakukan AS pada November 2005, ketika Indonesia mulai mengalihkan belanja Alutsista dari Rusia.

Negara komunis menjadi superior ketika negara-negara Eropa sekutu barat yang notabene menggunakan sistem ekonomi kapitalisme, kini tengah dilanda krisis. Yang sebelumnya, sistem ekonomi ini diramalkan akan hancur oleh Karl Marx melalui buku “Manifesto Partai Komunis.” Hal ini berbanding terbalik dengan negara-negara yang berlandaskan komunisme seperti Cina. Cina yang dulu dan hingga kini bermasalah dengan pertumbuhan penduduknya yang sangat pesat, saat ini menjadi negara dengan kekuatan ekonomi yang diperhitungkan dan terbesar kedua perekonomiannya setelah AS. Meskipun kita tahu, dalam prakteknya Cina oleh Deng Xiaoping (suksesor Mao Zedong), tidak sepenuhnya menerapkan sistem ekonomi yang digagas oleh aties Jerman tersebut. Namun setidaknya ini menjadi rule model dan angin segar tersendiri bagi negara-negara penganut paham komunisme.

Menjadi kekhawatirkan jika Marxisme dengan berbagai metamorfosis seperti leninisme, Stalinisme, dan Maoisme itu, dipatronkan tanpa serta merta mengkaji secara mendalam apa yang menjadi latar belakang segala konsep, gagasan yang dianggap revolusioner itu lahir. Karena dengan cara itu, kita dapat memilik kesimpulan baik itu prestasi dan kegagalan yang berujung pada relevan tidaknya sebuah ideologi dijalankan pada masa kekinian. Tidak bisa hanya dengan membaca beberapa literatur tentangnya lalu kemudian menyimpulkan dan mengimplementasikannya mentah-mentah. Terlebih kepada kalangan mahasiswa  yang memilih jalan bersama ideologi tersebut karena sebatas kesamaan keadaan atau hanya sebatas ikut-ikutan. Jika benar demikiana celakalah sudah! Karena yang mereka lakukan dan dapatkan hanyalah kerugian yang berujung kegagalan dalam rangka pencarian kebenaran. Hal ini jelas bertentangan dengan hakikat manusia yang fitrah, yang mengartikan manusia cenderung akan kebenaran.

Kembali lagi hidup ini adalah tentang memilih, dan pilihannya adalah baik buruk, benar salah. Tinggal kita sebagai makhluk yang diberi akal ini membedakannya. Karena hakikat keistimewaan akal adalah saat kita menggunakannya. Bahkan seorang Martin Luther (pendiri Kristen Protestan) memuji keistimewaan akal dengan menyebutnya “pelacur,” yang artinya akal mampu membawa kita pada kenikmatan (kebaikan) dan juga kesengsaraan. Tapi perlu juga diingat, bahwa akal bukanlah satu-satunya piranti penentu dalam rangka pencarian kebenaran dalam konteks tertentu, seperti “menemukan” Tuhan.  Karena ketika kita ingin mencari wujud Tuhan secara jasmani dengan menggunakan peralatan tubuh manusia yang bernama akal, secara tidak langsung kita telah mendegradasi sifat-sifat ketuhanan yang  kekal dan mutlak itu. Kenapa? Karena yang kita lakukan diatas adalah ingin menampilkan wujud Tuhan secara kebendaan. Kenapa kebendaan? Karena pada dasarnya segala sesuatu yang terjangkau dengan akal adalah hal-hal yang mengisi ruang dan waktu yang bersifat kebendaan. Dan segala sesuatu yang bersifat kebendaan serta mengisi ruang dan waktu itu dapat hancur yang bahasa lainya adalah tidak kekal. Sedangkan seperti yang diajarkan sekolah-sekolah teologi dan sekolah umum, bahwa sifat Tuhan itu adalah kekal. Karena memang tidak mungkin ciptaannya lebih baik dan hidup lebih lama ketimbang penciptanya (Tuhan).  Arti dan inti dari apa yang coba dipaparkan di atas adalah, tidaklah mungkin kita menemukan Tuhan dalam wujud kebendaan (lahiri) dan kita hanya mampu menemukan Tuhan dalam wujud batini. Tentunya hal itu tidak akan menjawab pertanyaan dari seorang ateis.

Akan tetapi, sesungguhnya kita dapat melihat Tuhan dengan peralatan jasmani manusia. Karena hal itu sangat gamblang dikatakan dalam kitab suci umat Muhammad SAW, bahwa jika ingin melihat wujud jasmani Tuhan, maka lihatlah gejala alam sekeliling yang merupakan ciptaannya. Lantas, atas itu bukan berarti kita boleh menyembah ciptaannya. Karena memang, itu hanyalah sebagian kecil dari perwujudan Tuhan yang memang tidak pantas untuk kita sembah. Namun kembali,  jawaban ini tentunya tidak cukup membuat puas kelompok-kelompok Ateis dan orang-orang  yang ingin mengetahui bentuk dan keberadaan Tuhan.

Tapi sebenarnya, jikalau memang keatiesan seseorang (mahasiswa, pemikir dll) itu timbul atas dasar sikap rasionalitas seperti yang dianut oleh para pemikir dan ilmuwan seperti Stephen Hawking, Thomas Paine, Bertrand Russel dan lainnya, adalah “mewah” pada dasarnya paham ini seperti yang dikatakan oleh Nurcholis Madjid.  Mengapa demikian? Karena ketika hal itu terjadi, sungguh luar biasa keahlian manusia ini dengan ilmiah dan kerasionalitasan yang dimiliki, mampu menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan segala fenomena alam semesta serta isinya, yang oleh umat beragama seringkali diklaim sebagai wujud kekuasaan Tuhan. Namun sayangnya realitanya tidak demikian. Kecenderungan ateisme yang dianut masyarakat kekinian termasuk mahasiswa, nyatanya panggang jauh dari api, yang artinya tidak “mewah” seperti yang dikatakan cendikiawan muslim tersebut. Karena ateisme yang mereka anut, mungkin hanyalah sebatas akibat kekecewaan pribadi atas agama, atau bisa saja memiliki anggapan bahwa tanpa beragama pun mampu melaksanakan kebaikan, lalu mungkin juga malas dengan ritual agama, atau bahkan ikut-ikutan sampai akhirnya terbawa dengan kelompok formal yang ideologinya diidentikan dengan perilaku ateisme. Dan yang menarik buat saya dari latar belakang seseorang kemudian memilih menjadi ateis adalah, tentang kekecewaan terhadap agama dan menganggap dirinya mampu mengimplementasikan nilai-nilai kebaikan yang universal tanpa harus bertuhan.

Kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh umat beragama dan berujung pada penilaian yang menyimpulkan (generalisasi) kenegatifan suatu agama, adalah sah-sah saja menurut saya. Namun yang perlu diingat, salah satu esensi dari keberadaan agama dimuka bumi khususnya Islam (karena memang itu yang saya tahu), adalah untuk memperbaiki akhlak umat manusia yang bercirikan kepada kebaikan serta kebenaran yang hakiki. Maka dari itu, ketika seorang beragama melakukan tindakan-tindakan yang dinilai negatif dan sesungguhnya tindakan itu merupakan refleksi ketidaktakutannya akan keberadaan Tuhan, tanpa bermaksud menilai keimanan seseorang, dapat kita simpulkan orang tersebut pada saat tindakan itu terjadi adalah orang yang tidak beragama atau ateis. Kenapa saya katakan begitu? Karena sikap saat tindakan negatif itu terjadi, seolah-olah menggambarkan ketidakadaan Tuhan yang akan mengawasi segala sikap perilaku manusia.

Menanggapi alasan kedua tentang pilihan manusia menjadi ateis akibat dari sikap perilaku kemandirian seseorang yang mampu mengaktualisasikan nilai-nilai kebenaran yang universal tanpa harus berlandaskan Tuhan dengan agamanya, jawabannya adalah. Sampai dimana nilai-nilai kebenaran serta kebaikan yang digagas dan lahir dari rahim pemikiran manusia yang pada hakikatnya relatif? Relatif yang artinya manusia bisa melakukan kesalahan, kekeliruan dsb.

Secara logika, ateis yang muncul pada gerakan komunis seperti komunis internasional (Comintern), sesungguhnya bukanlah gerakan ateis. Kenapa saya katakan bukan ateis? Karena dalam praktek ateisme tersebut, berlaku upacara sumpah setia (layaknya syahadat dalam Islam) dan doktrin-doktrin yang ketat kepada anggotanya, guna pemantapan paham ateis dalam gerakan itu. Hal ini jelas tak ubahnya sebuah agama baru atau tuhan baru. Dan hilir kesimpulan pada gerakan ini, secara logika sederhana adalah gerakan yang “bertuhan,” yang dalam hal ini Tuhannya adalah ideologi yang mereka anut. Sama halnya dengan seorang ateis yang memilik keyakinan (keimanan) teguh, bahwa Tuhan itu tidak ada (ateis). Karena secara sadar atau tidak, dirinya telah memiliki keyakinan atau keimanan pada sikap yang menjadi ideologinya yakni ateisme, yang disikapi layaknya Tuhan yang diyakini dan diimani ciptaanya. Jadi pada dasarnya secara logika anak SD, paham ateisme itu tidak akan bisa ditegakkan. Karena setiap upaya implementasinya justru akan menjerumuskan pada paham politheisme. Sebuah pandangan teistik yang bermakna kepercayaan kepada lebih dari satu Tuhan. Lalu bagaimana cara “menjawab” permasalahan ini? Saya kira tidak usah berpikir keras untuk menyelesaikannya, karena memang persoalannya hanyalah ketepatan penggunaan istilah saja, namun tetap dengan permasalahan dan jawaban yang serupa seperti diatas.

Dan Tuhan yang Mahatahu sesungguhnya. (MochRiz)

Filed under: Buletin Pandji, KARYA HMI IISIP, Politik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pandjinews
Juli 2012
S S R K J S M
« Mei   Agu »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  
%d blogger menyukai ini: