Paparan & Kajian

Yakin Usaha Sampai

Rohingya, Jangan Ada Standar Ganda Di Antara Kita

Beberapa hari yang lalu, saya dan teman-teman sesama himpunan melakukan aksi solidaritas mengecam tragedi kemanusiaan di Myanmar. Adalah bentuk keprihatinan kami akan tragedi yang sampai kini masih berlanjut dan banyak memakan korban minoritas muslim Rohingya di negara dalam cerita film “Rambo IV.” Sasaran dari aksi penekanan kami diarahkan kepada kantor Kedutaan Besar Myanmar. Pihak dan juga perwakilan yang memang paling ideal untuk diminta pertanggungjawaban di Indonesia. Dalam unjuk rasa itu kami ingin menuntut segera dihentikannya aksi kekerasan yang merenggut korban nyawa anak cucu Adam itu. Bersama semangat pejuang kemerdekaan yang menggebu-gebu, kami berangkat menuju kedutaan besar negara Junta Militer itu, sampai pada akhirnya tiba dan mengetahui cukup banyak aparat yang telah bersiap siaga. Dengan sedikit gaya anak muda yang suka berbuat onar, kami menyampaikan suara yang saya rasa menjadi tuntutan seluruh umat manusia yang cinta akan kedamaian. Hal ini tak urung sedikit menimbulkan ketegangan antara dua anak muda, yakni kami selaku mahasiswa dengan para penegak hukum yang juga masih belia selain komandannya itu. Sampai pada akhirnya, aparat membuat barikade pagar manusia yang menjaga kantor perwakilan dari bangsa pembantai saudara sendiri tersebut.

Ada hal yang menurut saya menarik, saat salah seorang pemimpin dari aksi kami memberikan orasi-orasi perjuangan. Dengan penyampain kata-kata yang lugas dan sikap yang tegas, ditambah petikan-petikan ayat suci layaknya khutbah Jum’at  yang hal itu semakin “membakar  semangat” kami, tampaklah wajah-wajah beberapa polisi yang saya perhatikan seolah menjadi terbius karenanya. Entah sikap itu wujud pembenaran atas apa yang orator kami sampaikan berdasar kesamaan agama, atau memang polisi tersebut terlalu lelah dengan perilaku kami dan juga ditambah puasa yang mereka jalani, entahlah.

Bicara penderitaan muslim Rohingya di Myanmar, sama halnya dengan bicara sebuah kelompok minoritas yang bertahun-tahun terdiskriminasikan hak-haknya oleh kelompok mayoritas yang didukung oleh negara. Bahkan Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan, muslim Rohingya adalah salah satu kaum minoritas paling menderita di muka bumi yang tak ubahnya Palestina di Asia Tenggara. Luar biasa kekejaman mayoritas yang terlegalisasi disana!

Hujatan saya dan anda menjadi omong kosong belaka, ketika saudara seumat Rohingya di Indonesia yang menjadi mayoritas, pada dasarnya masih melakukan tindakan barbar serupa, yang padahal kita sepakat mengutuknya sebagai tindakan binatang. Seperti  kekerasan yang terjadi pada Ahmadiyah dan kelompok-kelompok minoritas lainnya. Sikap standar ganda inilah yang juga selama ini dilakukan Amerika Serikat dan untuk itu kita mengecamnya. Sungguh menjadi tidak pantas kita menyuarakan rasa kemanusiaan.

Saya yakin betul, kritik saya dan kritik orang yang berpemahaman sama, akan dijawab dengan berbagai apologia dari kelompok mayoritas tentang kekerasan dan vandalisme yang dilakukannya di bumi nusantara ini. Baik itu alasan konyol seperti kelompok minoritaslah yang terlebih dahulu memprovokasi, atau dengan cara memeras ayat suci dan hadits untuk membenarkan apa yang telah dilakukannya, seperti pembenaran menghilangkan nyawa manusia. Sungguh Ironis!

Saya menjadi bertanya-tanya kepada mereka (mayoritas) ini. Apakah mereka tidak berpikir, bahwa keberadaan kelompok minoritas yang mereka hujat, perangi, bahkan bunuh, adalah tidak terlepas dari peran Tuhan yang mereka bela? Karena yang saya pelajari dalam Islam, setiap kelahiran anak manusia di muka bumi adalah bagian dari takdirNya, yang dalam hal ini Tuhan saya dan kelompok mayoritas ini. Lantas jikalau memang hal itu benar, seharusnya mereka (mayoritas) tidak memperlakukan dengan buruk apa yang telahTuhan mereka ciptakan (kelompok minoritas). Karena selanjutnya, Islam juga mengajarkan untuk menghargai ciptaan Tuhan, bukannya malah merusak bahkan membunuhnya, sekalipun ciptaanNya itu ada untuk “merusak” Tuhan itu sendiri. Karena pada hakikatnya sikap itu adalah perwujudan rasa syukur kita terhadap eksistensiNya.

Lantas dengan cara apa kita menghargai ciptaanNya yang kehadirannya untuk merusak eksistensi penciptaNya? Harus kita sadari bersama bahwa kalau bisa memilih, orang-orang tersebut saya kira lebih suka lahir dari rahim-rahim ibu yang membawanya pada kedamaian dan kesejahteraan dalam hidup, ketimbang lahir dari rahim ibu kelompok yang terdeskreditkan dan teraniaya dalam konflik. Namun ketika keberadaan mereka adalah hal yang tidak bisa dinegasikan karena bagian dari takdir Tuhan, tentunya kita harus mengambil sikap akan hal itu, bukan dengan mendiamkan tindakan-tindakan penistaan yang dilakukan ciptaanNya atas nama Pluralisme dan kebebasan berekspresi. Dan bukan juga bersikap dengan cara membinasakan orang-orang tersebut. Sikap-sikap yang bijaksana dan berujung pada kemaslahatan lah, yang kita ambil dalam penyelesaian masalah perbedaan antar kelompok dan keyakinan itu. Karena bukankah pada dasarnya jika ingin mengenyangkan perut yang lapar, adalah dengan cara memberi asupan-asupan makanan yang dapat dicerna lambung yang berujung pada mengenyangkan perut, dan bukan dengan cara berteriak “kenyang” sekerasnya-sekerasnya. Artinya adalah, jika kita ingin mengajak orang kepada kebenaran atau mengatakan bahwa kitalah yang paling benar. Bukan dengan cara-cara memaksa, mengancam, bahkan menghilangkan nyawanya ketika orang tersebut  tidak menghendaki keinginan kita. Tapi dengan cara-cara dialogis yang rasional (mampu diterima akal sehat) dan memberi contoh keteladanan. Ini menjadi penting, karena salah satu kemunduran yang signifikan dari umat Islam saat ini adalah, yang pertama tentang ketidakmampuan umat untuk mengartikulasikan dengan objektif suatu ajaran yang diyakini kebenarannya, agar dapat diterima secara akal sehat. Kebanyakan umat Islam yang ada saat ini, hanyalah umat Islam yang yakin memilih beragama ini, atas dasar garis keturunan saja bukan berdasarkan pencarian kebenaran yang mereka gali secara objektif. Imbasnya adalah, seolah-olah doktrin dalam agama ini tidak cukup rasional untuk dijelaskan dan diterima, ketika adanya sebuah penuntutan akan rasionalisasi dari ajaran Islam.

Saya tidak tahu kemunduran ini apakah juga terkait dengan adanya penolakan terhadap rasionalisasi dalam ranah agama atau bahkan ini refleksi ketidakpahaman “si pendoktrin” tersebut akan rasionalisasi agama? Namun jika dua hal itu benar adanya, menjadi sesuatu yang kontradiktif ketika kita diperintahkan di dalam Al qur’an untuk menjadi manusia berilmu (guna meningkatkan derajat), yang notabene hal itu akan tercapai jika kita menggunakan rasio (akal) dalam berpikir, bersikap dan berprilaku.

Kemudian yang kedua dan yang paling berbahaya dari penyebab kemunduran umat Islam adalah, ketika lidah dan laku umat Islam pecah kongsi, yang artinya perkataan dengan perbuatan tidak sejalan. Banyak dari umat kita yang sikap perilakunya seolah-olah bentuk pengejawantahan akan ketidakadanya Tuhan yang mengawasi tindak tanduk manusia dalam kesehariannya. Hal ini secara keseluruhan tak urung menjadi celah bagi generalisasi yang negative, dan munculnya kontraideologi buatan manusia terhadap Islam, yang semakin hari semakin subur diyakini. Jadi jangan heran ideologi buatan manusia yang ada, seringkali head to head atau bahkan mengkebiri Islam itu sendiri. Dan saya kira solusi singkat dari segala permasalahan ini adalah, mari umat Muhammad SAW, bersama-sama kita perbaiki apa yang menjadi kelemahan-kelemahan di atas dengan mengkombinasikan Iman, Ilmu dan Amal dengan sebenar-benarnya, guna kejayaan serta keberlangsungan Islam sebagai agama yang mendatangkan rahmat bagi alam semesta. Dan Tuhan yang Mahatahu sesungguhnya. (MochRiz)

Filed under: Berita HMI, Buletin Pandji, Internasional, KARYA HMI IISIP, Nasional, Politik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pandjinews
Agustus 2012
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
%d blogger menyukai ini: