Paparan & Kajian

Yakin Usaha Sampai

Pertemuan Mahasiswa Se-Indonesia Hasilkan Gerakan Penyelamatan Konstitusi

Mahasiswa seluruh Indonesia ketika berkumpul di Universitas Suryakancana, Cianjur, Jawa Barat dalam rangkaian Konsoldasi ke IV KOMANDO

Mahasiswa seluruh Indonesia ketika berkumpul di Universitas Suryakancana, Cianjur, Jawa Barat dalam rangkaian Konsoldasi ke IV KOMANDO

(Jakarta, 9 Maret 2014). Konsolidasi ke IV, Konsolidasi Mahasiswa Nasional Indonesia (KOMANDO) yang berlangsung pada 3-6 Maret di Universitas Suryakancana Cianjur, Jawa Barat, menghasilkan kesepakatan yang dinamakan dengan “Piagam Surya Kencana.” “Adapun esensi garis besar dari piagam tersebut ialah menolak segala bentuk penjajahan gaya baru yang itu berupa kapitalisasi dan liberalisasi ekonomi berpayung konstitusi,” ucap Mochammad Rizki selaku koordinator KOMANDO Wilayah Jakarta. “Amandemen berkali-kali yang dilakukan terhadap UUD 1945 yang asli, sedikit banyak membuka keran Neo kolonialisme baik itu terhadap sumber daya alam maupun sumber daya manusia bangsa Indonesia,” tambah mahasiswa yang juga kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) tersebut. Dirinya juga mengajak kepada mahasiswa seluruh Indonesia untuk bersatu dan bergerak  bersama pada 19 dan 25 Maret guna merealisasikan ‘gagasan besar’ ini. “Kami juga mengajak saudara-saudaraku mahasiswa di daerah, agar melakukan aksi serempak pada tanggal 19, serta pada 25 Maret 2014  nanti di Ibukota guna mengepung Istana, yang dengan isu besar kembali ke UUD 1945 serta adili SBY-Boediono.”

Adapun perwakilan wilayah yang hadir pada Konsolidasi Ke IV KOMANDO adalah wilayah Medan, Riau, Jambi, Palembang, Lampung, Banten, Tangsel, Jakarta, Cianjur, Kalimantan, Makassar, Maluku, NTT, dan Papua, yang itu tiap wilayahnya ada 1 hingga 5 kampus yang mewakili.

Selain menggagas dan berembug persoalan bangsa, mahasiswa dari seluruh Indonesia tersebut juga menyempatkan diri ziarah ke makam Ayahanda Raden Suryakencana yakni Raden Aria Wiratanudatar, serta silaturahmi ke berbagai tokoh seperti H. Chep Hernawan (Ketua Umum Gerakan Reformis Islam GARIS), dan Lembaga Bantuan Hukum Cianjur. “Santri itu memang miliki kemampuan intelektual, tapi sayangnya pengecut. Lain halnya dengan mahasiswa (KOMANDO), yang kemampuan intelektual ‘ada,’ militansi/keberanian juga ada,” tutur H.Chep Hernawan selaku Ketum Gerakan Reformis Islam, GARIS ketika menyampaikan pandangannya saat dikunjungi mahasiswa KOMANDO. Senada dengan itu, Ketua LBH Cianjur juga mengapresiasi gerakan yang dilakukan KOMANDO. “Pada dasarnya kami mendukung segala gerakan yang membawa demokrasi Indonesia ke arah yang lebih baik.”

Diluar itu diwaktu yang kurang lebih bersamaan, terdapat juga konsolidasi mahasiswa yakni pra temu BEM se-Nusantara (BEM Nus) di Hotel Savoy, Bandung, Jawa Barat. Pertemuan itu sendiri berakhir dengan ‘konflik kepentingan’ satu sama lain, yang diakibatkan forum tersebut kedatangan salah satu kandidat Calon Presiden RI, Prabowo Subianto, yang hendak hadir sebagai undangan namun ditolak oleh salah satu delegasi. Hal ini tentunya mengundang komentar, seperti yang dinyatakan Helmy Kautsar Rahesta, mahasiswa yang juga aktivis KOMANDO dari kampus IISIP Jakarta. “Mahasiswa bersatu saja belum tentu menang, terlebih berpisah-pisah atau sendiri. Ini kabar yang ironis tentunya bagi upaya penyatuan gerakan mahasiswa yang bersemangatkan perubahan.”

Filed under: Berita HMI, Buletin Pandji, Ekonomi, Internasional, KARYA HMI IISIP, Nasional, Politik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pandjinews
Maret 2014
S S R K J S M
« Jan   Jun »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
%d blogger menyukai ini: